Pages

Subscribe:
Tampilkan postingan dengan label International. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label International. Tampilkan semua postingan

Maret 11, 2012

Rusia kerahkan aparat amankan pemilu

detail
(foto: Dok. okezone)
Sindonews.com - Rusia menggelar pemilu presiden yang diperkirakan akan menempatkan kembali Vladimir Putin ke Kremlin. Polisi Moskow mengerahkan ribuan aparat tambahan di ibu kota untuk mengamankan pemilu. Oposisi mengancam menggelar unjuk rasa yang akan diikuti puluhan ribu orang hari ini.

Para pemilih, mulai dari Vladivostok di Pasifik hingga Kaliningrad di Baltik memberikan suara mereka dalam pemilu yang digelar selama 21 jam. Dalam pemilu kemarin, kemenangan Putin, 59, tampaknya sulit disangkal. Yang ditunggu saat ini bukan hasil akhir pemilu tersebut karena Putin dipastikan menang dengan mudah pada putaran pertama menghadapi empat kandidat lain.

Namun yang dikhawatirkan ialah jika pemilu kali ini memicu gelombang unjuk rasa besar-besaran yang dapat mengguncang Rusia. “Saya memilih Rusia baru. Semuanya baru dimulai,” tutur Mikhail Prokhorov, pesaing Putin saat memberikan suaranya di wilayah Krasnoyarsk, Siberia, kepada AFP.

Prokhorov merupakan pengusaha logam yang menjadi politikus. Komisi pemilu menyatakan partisipasi pemilih saat ini lebih besar daripada sebelumnya.

“Saat tempat pemungutan suara baru saja dibuka di Rusia, partisipasi pemilih telah melampaui 12% persen. Tingkat partisipasi di Timur Jauh juga lebih tinggi daripada pemilu parlemen Desember silam,” ungkap komisi pemilu Rusia.

Sejumlah pemilih menganggap Putin sebagai pria penyelamat Rusia dari kemerosotan menuju anarki dan kemiskinan setelah kekacauan 1990-an di era Boris Yeltsin.

“Saya tahu Putin dari aksi-aksi praktis, tidak kata-kata,” ujar pensiunan Zinaida Bykova kepada AFP di Vladivostok.

Namun beberapa pihak menganggap Putin tidak banyak melakukan perubahan. “Kita hidup di bawah Putin bertahun- tahun dan tidak ada perubahan dalam negara,” kata Yulia, 45, yang memberikan suara untuk Prokhorov di Moskow. Di tengah sengitnya persaingan, kelompok pemuda pro-Putin, Nashi, menggelar unjuk rasa di luar dinding Kremlin pada Minggu malam 4 Maret 2012.

Diperkirakan,ada 20.000 orang yang berkumpul di sana. Unjuk rasa tersebut diikuti dengan demonstrasi oposisi pada Senin (5/3/2012) yang diikuti sedikitnya 30.000 orang di Lapangan Pushkin. Unjuk rasa itu tidak diperbolehkan otoritas tapi polisi memperingatkan bahwa pengunjuk rasa melanggar aturan.

“Kami akan merespons berbagai provokasi itu dengan kekuatan penuh yang diizinkan oleh hukum,” kata Kepala Kepolisian Moskow Vladimir Kolokoltsev yang mengerahkan 6.300 aparat tambahan dari penjuru Rusia menuju Moskow. Putin pernah menjabat presiden dua periode, pada 2000 hingga 2008,kemudian menyerahkan Kremlin pada Dmitry Medvedev dan dia menjadi Perdana Menteri (PM).

Berdasarkan perubahan konstitusi, mandat presiden selanjutnya selama enam tahun. Beberapa pengamat mendesak Putin untuk melakukan perubahan sosial.

“Ada kemungkinan berbagai hal memburuk selama enam tahun ke depan di Rusia,” tutur pernyataan pengamat dari London Chatham House. Stabilitas ekonomi di Rusia telah menciptakan pertumbuhan kelas menengah sangat banyak.

Di sisi lain, ledakan pengguna internet di negara itu membuka akses yang lebar bagi publik mengkritik kalangan elite. Meski ada prediksi yang mengkhawatirkan bagi masa depan Putin, jajak pendapat menunjukkan bahwa Putin akan menang pemilu putaran pertama dengan 60 persen suara, jauh meninggalkan pesaingnya dari Partai Komunis, Gennady Zyuganov, yang hanya mendapat 15 persen suara.

Prokhorov dan Vladimir Zhirinovsky akan bersaing memperebutkan posisi ketiga. Sementara, mantan ketua majelis tinggi Sergei Mironov berada di urutan terakhir. Otoritas memasang 182.000 kamera di 90.000 tempat pemungutan suara. Ratusan ribu kamera itu bisa diakses langsung melalui jaringan internet selama proses pemilu. Ini merupakan upaya pertama kali untuk menunjukkan transparansi dan mencegah tuduhan kecurangan pemilu.(azh)

Putin deklarasikan kemenangan


detail
(Vladimir Putin (Foto: reuters))
Sindonews.com - Beberapa jam setelah Rusia menggelar pemilu, Perdana Menteri Rusia, Vladimir Putin kembali terpilih menjadi Presiden Rusia untuk ketiga kalinya. Dia mendeklarasikan kemenangannya setelah mengantongi 64 persen dari jumlah suara yang ada.

Sekitar 110.000 orang pendukung Putin berkumpul di Lapangan Manezhnaya di luar tembok Kremlin, Moskow menyaksikan Putin menyampaikan deklarasi kemenangannya. Dalam kesempatan tersebut kepada sejumlah pendukung yang hadir dia menyampaikan rasa terima kasih karena telah memberikan dukungan suara.

"Kita menang dalam penyelenggaraan pemilu yang adil dan terbuka," ungkap Putin, seperti dikutip dalam Rusia today, Senin (5/3/2012).

Putin mengatakan pemilu kali ini lebih dari sekedar pemilihan presiden, ini adalah sebuah tes kematangan rakyat Rusia secara politik apakah mereka benar-benar bebas.

Putin mengatakan kemenangannya adalah kekalahan bagi mereka yang berencana menghancurkan Rusia. Rakyat Rusia terbukti mampu membedakan antara kemajuan tentang sesuatu hal yang baru dan sebuah provokasi politik yang pada akhirnya hanya akan membawa Rusia pada kehancuran.

Sementara itu, hasil suara sementara yang disampaikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Rusia menunjukan Putin mendapatkan lebih dari 64 persen suara jumlah ini dinilai cukup untuk menduduki posisi pemenang, sementara saingan utamanya Gennady Zyuganov hanya memenangkan suara sekitar 17 persen, sementara tiga orang kandidat lain hanya memperoleh suara satu digit.

Di lokasi yang berbeda, Zyuganov kecewa dengan hasil pemilihan umum ini. "Pemilu ini tidak adil dan tidak layak," ungkap Zyuganov seperti dikutip dalam BBC.co.uk.

Zyuganov telah mengalami rentetan kekecewaan, ada kecurangan dalam pemilu anggota parlemen Rusia yang diadakan pada bulan Desember lalu, kecurangan dilakukan oleh United Russia Party.

Tuduhan kecurangan pemilu muncul walaupun pemerintah telah memasang sejumlah kamera pengawas dan menyebar tim pemantau di sejumlah tempat pemilihan suara. Sebuah organisasi pengamat mengatakan terdapat ribuan pelanggaran dalam pemilihan suara, dan sejumlah ledakan pemilih yang hadir di beberapa tempat.(azh)